“Ha? Masuk Fakultas Pertanian? Mau jadi apa lu, madesu!”
Kira-kira demikian kalimat setengah menghujat yang dilontarkan teman saya kala mengetahui saya memilih program studi Agribisnis untuk melanjutkan jenjang perkuliahan. Saya dibilang “Si masa depan suram”. Saya spontan heran. Saya lempar balik mereka dengan pertanyaan yang membuat mereka terdiam; “Kalau gak ada gue, kalian semua mau makan apa?”
Miris mengetahui bahwa citra pertanian dewasa ini sedang terhunjam pada titik yang disugestikan secara negatif. Di kalangan anak muda, tercipta kesan bahwa sektor pertanian yang saat ini memberi makan lebih dari 200 juta orang di Indonesia dianggap sebagai pusaran menuju kemiskinan. Sepanjang pengalaman saya, nyaris muncul stigma baku bahwa mereka yang memilih kuliah pertanian dianggap sebagai mereka yang gagal memilih kuliah idamannya atau yang berasal dari pelosok desa alias ndeso banget. Bagi anak muda, kuliah terhebat adalah kuliah di bidang pertambangan dan perminyakan, dan kerja terhebat adalah di perusahaan multinasional bergaji Dollar. Tidak ada yang salah memang dengan pilihan mereka tersebut. Akan tetapi, apa jadinya kalau pertanian kita ini diremehkan anak mudanya sendiri? Mau dibawa ke mana masa depan pertanian negeri agraris yang melegenda ini kalau generasi penerusnya abai dan tak peduli?
Mari kita telaah fakta-fakta yang ada.
Indonesia adalah negara agraris yang memiliki 40.071.320 ha lahan pertanian (82,71% dari dari seluruh luas lahan) namun hanya mencetak sekitar 4% sarjana pertanian dari total kelulusan sarjana setiap tahunnya. Citra kuliah di pertanian kalah pamor dengan citra kuliah di jurusan teknik (13%), sosial-humaniora (20%), dan ekonomi (27%). Bayangkan saja, jika dari 4% (173.158 orang) lulusan pertanian tersebut harus mengurusi 40 juta ha lahan, berarti secara teori satu orang kedapatan mengurusi 203 ha lahan. Belum lagi, tidak semua sarjana pertanian terjun ke dunia pertanian, banyak yang memilih desersi atau berpindah bke dunia kerja lain yang tidak berhubungan sama sekali dengan pertanian secara langsung, misalnya di sektor perbankan atau sektor industry lain. Lebih gawatnya lagi, mengutip data publikasi milik Prof. Djoko Santoso dalam Membangun Kemandirian dan Daya Saing Bangsa (2010): secara statistika, jika hal tersebut terus terjadi, maka pada 2025, tahun yang rentan akan isu kekurangan pangan, Indonesia hanya akan mencetak 1,7% lulusan pertanian dari total kelulusan.
Pada era modern ini, ketika teknologi berjaya di berbagai sektor, saya yakin akan muncul anggapan tersendiri atas data tersebut, terutama pada data 203 ha lahan per sarjana pertanian. Anggapannya kira-kira begini,” Tidak ada yang salah dengan angka tersebut. Hal tersebut bukankah membuktikan bahwa dengan banyaknya tenaga kerja di sektor industri dan basis teknologi modern, perekonomian Indonesia bisa lebih cepat digenjot? Lalu, adaptasikan saja teknologi pertanian untuk mengurangi SDM petani dan meningkatkan produktivitas.”
Memang benar, sektor industri kita saat ini menyumbang sekitar 41% dari total PDB, sementara pertanian hanya 15%. Tapi ada dua fakta yang bisa dibawa untuk membalik anggapan tersebut.
Fakta yang pertama adalah, sektor pertanian di Indonesia ini nyatanya menjadi tumpuan 41% tenaga kerja di negeri ini. Angka tersebut mencerminkan dan menegaskan kembali bahwa “secara takdir” kita adalah negara agraris. Orang-orang di pedalaman, katakanlah suku Dayak, mereka bisa hidup karena menanam beras andalan mereka si “Adan Krayan”, bukan karena merakit spare-part.|
Fakta yang kedua adalah, tidak akan semudah membalikkan telapak tangan untuk mewujudkan adaptasi teknologi pertanian negara maju tersebut secara begitu saja di Indonesia. Pertimbangannya adalah, pertama karena dananya yang kurang. Sektor nan “hidup dan mati” yang dalam UUPA ini tidak boleh dikuasai asing, hanya mendapat anggaran 2,8% dari total APBN 2013 (Anggaran belanja Kementan). Fakta kedua, banyak dari tenaga kerja pertanian di Indonesia ini adalah mereka yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Dalam Publikasi Kementan pada 2012 yang bertajuk Perencanaan Tenaga Kerja Sektor Pertanian 2012-2014, dari 38,7 juta tenaga kerja pertanian pada 2010, 38,46% tamat SD, 26,57% tidak tamat SD, 9,61% tidak atau belum pernah sekolah, dan hanya 16,23% yang lulus SLTP. Tenaga kerja tersebut mungkin memang ahli secara praktis, namun untuk mencapai “pertanian modern” dengan produktivitas yang diharapkan mereka membutuhkan bimbingan tenaga kerja yang terdidik yang mampu memahami dan menguasai makna produktivitas modern. Dan, secara formal tenaga kerja yang mendapat “pengajaran pertanian modern” tersebut adalah mereka yang berpendidikan SMA Kejuruan ke atas. Sementara yang terjadi di lapangan, hanya terdapat sebesar 8,56% tenaga kerja lulusan SMA Kejuruan/sederajat dan cuma ada sekitar 0,50% tenaga di sektor ini yang mencapai jenjang Diploma maupun Universitas. Dari kedua fakta tersebut, apa jadinya kalau pemuda negara ini tetap tidak mengindahkan pertanian?
Ada pepatah yang dilontarkan para leluhur Minang, bunyinya begini: Minum makan paubek lapa, nak kuaik sandi jo tulang, sadonyo mukasuik sampai, berarti “Kalau perut kosong, maka berat segala anggota badan. Jika perut terisi, ringan segala anggota badan. Makan adalah untuk hidup”. Leluhur kita tahu benar, tanpa makanan seseorang akan lemas terkulai. Bila diibaratkan dengan negeri ini, Indonesia pun akan begitu. Tanpa pertanian, sektor-sektor lain sebagai “anggota tubuh negara”, termasuk sektor industri , akan lemas bahkan mati. Kiranya, kearifan lokal harus kita kembalikan lagi untuk menyadarkan semua elemen, terutama pemuda, tentang betapa pentingnya pertanian. Termasuk dari tindakan dan kebijakan pemerintah.
Selanjutnya, untuk menarik minat kaum muda terhadap pertanian, harus dipikirkan kemasan yang modern dan mengandung unsur kekinian yang elegan. Gerakan pemuda sadar pertanian dewasa ini sudah banyak bermunculan. Di Bandung, misalnya, kini ada komunitas bernama Agritektur yang aktif menghidupkan sektor pertanian dengan gaya modern. Wadah ini dikreasikan oleh mahasiswa sejumlah perguruan tinggi ternama di Bandung. Melalui farmers’ market mingguan yang dibungkus dalam gaya minimalis, Agritektur gencar menyuarakan pentingnya pertanian. Sasarannya adalah kaum muda.
Sudah saatnya kaum muda bangkit berjuang mengangkat sektor pertanian di negeri yang potensi agrarisnya tinggi ini. Percayalah, data yang sudah diungkap di atas, menceritakan dengan jelas kedigdayaan negeri bisa dicapai karenanya. Ingat pula, mengapa sebab penjajah datang silih berganti ke tanah kita kalau bukan hasrat tinggi mereka akan hasil pertanian kita. Kini saatnya kaum muda bergerak, jangan sampai kembali kita terjajah, 2014 bisa menjadi tonggak kesadaran kaum muda.